GERIMIS DI UJUNG SENJA BAGIAN 2 Goresan Penyiksa Oleh Wiko Antoni

         Ruangan itu seperti kamar Rumah Sakit. namun cukup suram dan tak begitu terang. Wias terbaring di sebuah dioan rawatan nan tak jelas terbuat dari apa. entah kapas atau kabut. Ada dua wanita berdiri dekat Wias.  Samar terlihat oleh  Wias . Dianya kenali kedua sosok cantik tersebut. Mereka iyalah Yuni dan Lasmiyati. 

        Tak tampak senyum. hanya pandangan beku. Beku dan dingin layaknya salju. Wias nak coba tanyakan apa peristiwa yang sudah berlaku, mereka menggeleng meminta Wias untuk tak berbincang sepatah kata apa jua.

          Tak ada infus, tak ada barang satu jenis rawatan. nan tak bisa dijelaskan adalah Wias merasa sangat baik. Wias mencoba duduk tapi sesaat ia jatuh lagi. Dua wajah itu menatapnya penuh misteri. Makna tatapan dalam nan sukar nak diselami.  Salah satu dari keduanya mendekat. Ia adalah Yuni. Wanita cantik nan berwajah lonjong bermata tajam itu berkata,

           "Susah sangat mau nak berjalan tak          beriringan dengan aku kah?

              Mana masa Wias nak jawab iyanya tempelkan telunjuk dibibir. Isyarat untuk cegah  Wias nak jawab.

                *Fasad jasad bolehlah berpisah. namun ruh aku dan kamu sudah melebir. Aku tahu apa nan kau rasa dan kau jua tahu apa yang daku derita." katanya pula.

                 Wias. meanap pula pada tatapan kosong Lasmiyati. Wanita itu tiba-tiba saja tersenyum.

                   "Ebgkau dalam rawatan kami. selalu dalam rawatan kami. sebab jiwa engkau dah hancur, hatimu dah patah. kau tiada punya daya lagi nak berdiri tegak tanpa kami." katanya datar dan seolah lebih tepat terasa macam maklumat daripada penjelasan.

                  Wias merasa dadanya sesak. ada kemahuan nak pergi jauh. tinggalkan dua wanita ini selamanya. Tapi ia sedar bahwasanya saat oni dirinya sangatlah lemah. Jan kata nan mengayun langkah. Duduk saja tak kuasa. bangkit dari pembaharingan ini bagai sebuah lelaku nan sangat nustahil kala ia raskan seluruh tubuh lemah macam ini.

                  *Kau pergi dari aku, kau sangka kau perkasa kah?" Yuni tersenyum getir. Nada bicaranya malahkan terdengar nacam cemoohan seorang nan marah.

                  "Kau luhat fasad kamu sekarang. kamu adalah lelaki kalah!" Kata Lasmiyati pula melanjutkan.

                 Wias coba nak berontak. dua wanita ini bukan merawat tapi menambah luka derita. Dalam kekalutan Wias sadari juga. Tak satu patah kata mereka nan salah. Tak satu ungkapan nan bertikai. Itulah adanya. Sejauh mana ia pergi. Banyangan kenangan masa indah menggayut di pundak. Mencipta berat beban tiada tara.

       bersambung...

#wiko_antoni_novel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GERIMIS DIJUNG SENJA BAGIAN 1 goresan penyiksa oleh Wiko Antoni

NODI HARPENDI