GERIMIS DI UJUNG SENJA bagian 10
episode 10
suatu hari Wias datang ke kedai Yuni. ia nak beli pakaian baru. dia berfikir baiklah beli di toko istri sendiri daripada orang lain tapi Nur tersenyum padanya sebelum ia benar benar pergi.
"sungguhkah abang nak beli pakaian di konveksi kecil dan pakai buat bekerja?" katanya tersenyum nakal dan manja.
"Kenapa, apa pula salahnya." kata Wias.
"engkau kepala syarkat. tak pantas pakai baju sembarang pakai. aku dah pesan pakaian impor nan mahal." katanya senyuk manja.
Wanita muda itu berlari ke kamar tak lama ia bawa bungkusan berkelas berisi pakaian mahal dari luar negeri.
"Abang boleh coba, apa nak aku pakaikan?" katanya tersenyum manja sekali lagi
Wias termenung, "apa ini hanya cara Nur supaya aku tiada bertemu Yuni" batinnya berbisik. tapi tidak. kata-kata Nur selanjutnya menjelaskan alasan nyata nan lebih pelik. dengan manja ia berkata,
"kenapa abang bermenung? abang kata Yuni adalah tempat pulang dalam gelisah abang? Lasmiyati tempat semangat menantang hidup. aku adalah keduanya." ia membelai rambut Wias dengan senyum manja.
Wias diam seribu kata. tak bisa nak ucap apa. "kenapa aku diburu cinta nan menyiksa " batinnya berbisik. Iyanya tatap nata tulus wanita muda di hadapan. cukup licik dan curang dalam kesan aslinya. tapi. ia tangkap sangat tulus untuknya
"Baik Nur, aku pakai nan kau beli saja." kata Wias pelan.
Nur memekik girang "abang, Nur sayang abang!" katanya bahagia. ia cium wakah Wias. ia peluk macam budak dapat mainan kesayangan
"Kalau abang rindukan Yuni atau Lasmyati, bolehlah abang temui, tapi segala tentang mereka Nur akan penuhi semuanya" katanya sambil melangkah ke dapur menyiapkan makanan
Wias menatap Nur nan hilang di pintu. ianya menahan sesak dada. matanya tak kuasa menahan aliran air nan deras. dengan sekuat ia mampu ditekannya tenggorokan biar tak ada sedu sedan. di luar gerimis turun. senja tiba. kilat sambar menyambar namun semua itu tak seberapa di banding badai dalam dada Wias
Tiada lama berselang tiada disari Wias ada jemari halus nan seka air matanya.
*Abang menangis?" kata Nur yang tiada Wias sadari dah ada didekatnya
"A. tidak." Kata Wias terkejut
.*Nur bawakan abang handuk. air hangat dah siap. abang boleh mandi, Nur siapkan makan malam." kata Nur sambil membelai wajah Wias.
"Jan menangis, Nur tak bisa lihat abang sedih" katanya.
#wiko_antoni_novel
bersambung...
Komentar
Posting Komentar