GERIMIS DI UJUNG SENJA. BAGIAN 11

          wias tersandung. Ia jatuh ke sebuah jurang yang tak begitu dalam. dingin terasa saat tanganya menyentuh tebing batu. basah. Kepalanya tersangkut ke belukar dan rerumputan. Tak Ada Yuni, Lasmi atau Nur. hanya desir gerimis yang menderu. tubuh dingin dan basah. Tubuhnya terasa lelah, dengan upaya berat dia coba bangkit dan duduk.Wias menatap sekeliling, ini pinggiran danau. Riak danau terlihat jelas dengan kabut tipis mengambang.

      Sekejap ia teringat awal perjalanan. Tadi dia ssudah duperingatkan penjaga gunung. Tak boleh ada nan mendaki saat cuaca buruk. Namun ia bedegil. Wias hanya bisa dapati kedamaian dengan menyendiri. Melayangkan masa lalu nan indah dengan Yuni dan Lasmiyati. Mengingat Nur dan menjalani hidup lengang dalam kesorangan panjang. Terkenang pula olehnya saat ia terpelet dalam kabut tebal dan tao sadarkan diri. Telatnya merasakan Yuni dan Lasmi tadi genggam tangannya. Masuk ruang rawat nan tak menyembuhkan. Dalam tak sadar diri Wias sudah berhalusinasi bahkan kembali balik ke masa silam.

        Sekujur badan terasa sakit. Wias duduk bersandar di batu. suasana terasa damai. Kabut, gerimis, riak danau desir angin dan dingin mencekam. Tak ada tempat nak meminta tolong. ini Danau berkelilingan bukit terjal. Ia raba ransel, mungkin ada sedikit bekal nan bisa dimakan. Ya bekalnya masih cukup. Ia tergelincir pada seni nak menanjak jadi beka masih sempurna. 

        Menahan sakit di sekujur badan, Wias berusaha bukak kancing Tas. Ia meraih makanan roti dan air mineral. Saat dia telan makanan itu serasa sedikit bercampur anyir. tahulah Wias, kepalanya dah bocor berdarah. Darah nan terus mengalir hingga bibir dan mengtori jari-jarinya. Karena lapar tak ia peduli, tapi saat menelan terasa skitnya di muncung Wias. rupanya sekitar pipinya dah retak dan juga berdarah. Kini ia hanya bersandar di batu. "Tak lagi melanjutkan makan dan Minum.

        "Abang, kenapa abang berdusta " tiba-tiba tampak Yuni dihadapan dengan wajah sedih berurai air mata.

           "Yuni, maafkan abang." kata Wias.

              Kini Wias merasa berada di sebuah taman nan indah. penuh cahaya redup berwarba merah jambu. Lasmk tampak menatap tajam dengan amarah bak nyala api 

          "Pasal abang khianat bukan masalah bagi kami, tapi pendamkan soalan dan derita batin sendirian dah buat kami seolah ampas tebu nan diluah setelah abang hisap manisnya " Kata Lasmiyati keras dengan sedu tangisan memecah langit 

           "Abang hidup denhan Nurhayati, tapi abang selalu sendiri." Kata Yuni. Kau tak adil bagi kami. Kau tak hargai pengorbanan. kau tak ingati kalau kami selalu ada pada apa saja keadaan engkau." Kata Yuni tersedu.

           "aku lelah..." Kaga Wias.

            "Aku tempat pulangmu. kau tak anggap aku ada" Kata Yuni.

            . "aku pelindungmu, kau suka menanggungkan deritamu." Kata Lasmk keras.

               Tiba- Tina cahaya merah jambu mengelam. Kilat menyambar-nyambar. dari Jauh ada langkah lembut nan anggun tapi jua penuh amarah.

              "Aku kau sayangi dengan sandiwara. Tapi aku akan tulus tanpa drama." Nur tegal di hadapan Wias. Ia teguh bak pokok kayu nan tak goyah oleh angin...


bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GERIMIS DI UJUNG SENJA BAGIAN 2 Goresan Penyiksa Oleh Wiko Antoni

GERIMIS DIJUNG SENJA BAGIAN 1 goresan penyiksa oleh Wiko Antoni

NODI HARPENDI