GERIMIS DI UJUNG SENJA BAGIAN 3
perawatan sunyi berlangsung lama. Lasmiyati dan Yuni bagaikan bayangab di kamar nan berhias aneka larik, bait dan kalomat puisi. Mereka tak benar-benar merawat Wias. kata katanya tajam, tatapan mereka bara tak kunjung nyala.
Tak lernah berikan obat. tak pernah membalut ruam luka. mereka hanya menggenggam jemari Wias. genggaman nan jauh ke dalam hati. melenakan sukma dan hilangkan waruah jiwa.
kian lama perawatan berlangsung bukan sembuh nan di dapat. luka kian larah dan fasad kian lemah. Wian coba nak lepaskan jari-jari mereka namun kian eratlah tercengkram. kian eratlah menguncim sementara daya kian lemah seirimg menipisnya asa.
"Apa nan nak buat, buatlah tapi usah kaloan bawa aku ke masa lalu" Wian berkata lemah.
Lasmi tertawa getir. iyanya menatap Wian dengan tatapan membara.
"Lupakan katamu?" wanita itu menatap dalam dan dingin hingga ke jantung. "kau dah tanam duri dihatimu, kau semai dan kau namai nama -nama kami" katanya datar.
Yuni malahan tertawa,
"Nak timggalkan kami di masa lalu kah?" katanya sedingin malam berkabut pancor gerimis. Ia menatap bagaikan panah nan menghanncutkan bukit berbatu. matanya penuh cinta dan amarah nan berpacu dalam dendam masa tiada hendak berlalu.
"Angkau sangkakan kamu bisa lepaskan setiap kenangan nan kau guriskan di pelataran masa saat langkaukan segala rintang perintang. kau lupa Wias, engkau nan dah mulakan semua ni. dulu kami tak buka pintu untuk segala luka. kau ketuk hati kami, angkau buatkan sejuta cerita nan berbunga sejuta lara." mata Lasmiyati nyata redup. tampak sungguh kedalaman luka nan bersabung cinta. dendam kasih tak kesampaian.
Dua mata nan penuh kasih sayang melepaskan panah luka ke dalam jiwa. luka-luka nan sengkarut marut dengah harapan dan mimpi nan sama hancurnya. Aku mula lelah dikurung di kamar rawatan nan tak merawat ini. dua perawat nan menanggung luka dan dendam ini bukanlah semata pemelihara. ia lebih tepatnya api dendam asmara melankolia.
bersambung...
#wiko_antoni_,novel
Komentar
Posting Komentar