GERIMIS DI UJUNG SENJA bagian 4
...dengan memaksa diri, Wias akhirnya mencoba bangkit jak pembaringan. Lasmiyati dan Yuni tak nak lepaskan dia. Malahkan dengab kedua jemari tergenggam mereka ikuti kemana saja langkah Wias nan lemah menjejak.
"Nak lari dari rawatan kami kah?" kata Lasmi dengan tatapan curiga nan keras.
"Atau nan lupakan kerasnya hatiku bedegil menyayangimu." tampak muka kecewa Yuni menjejas keras hati Wias.
"Nan jelas, aku hanya nak lari dari kegamangan rasa dalam diri sendiri." Kata Wias tanpa tekanan rasa. Ucapannya mendatar dan tak daya sedikit jua.
"Wanita nan mencintamu lebih berbahaya dari musuh manapun di medan perang!" Lasmiyati membentak. sekeliling bergetar. petir menggelegar. awanpun berarak kelam. kilat sambar menyambar.
"Dah kuat sangat kau, nak lepas bimbing genggam jari kami" Yuni berkata lembut, penuh cinta tapi luka mendalam. "Nak melupa fasad kami nan membentuk kau jadi lelaki sejati, kau sangka segala capaianmu hanya usahamu sendori. tak ada sulit perit kami menyokong kamu dengan air mata." Yuni terisak, air matanya betrrbangan bak mutiara terhempas badai. wajahnya kelam dalam kesedihan sementara Lasmiyati tersedu namun dengan tatapan nan tetap keras meski air matanya berhamburan bak manikam nan betrrbangan di ryang hampa.
"Balik pada kami sayang " Kaya Yuni lemah, disela tangis merintih
"Kau nak bawa jasad lemahmu menantang badai? kau nak bunuh kami oleh kehilangan?" Lasmiyati berteriak dengan nafas patah patah oleh tangis dan kemarahan.
Wias terduduk di batu hitam legam nan keras. Batu nan terbentuk ulah letusan gunung api beratus waktu silam. Dua tangan masih pegang erat jemarinya
"Dah aku cuba lari. aku melangkah jauh hingga tak tahu kenana nak pulang" Katanya pelan.
"Bak mana fasad kau fikir bisa buang kami macam sepah tebu setelah manis kami habis kau hisap". Tangisan Lasmiyati pecah menghantam angkasa raya nan maha luas
Yuni membelai wajah Wias,
"Sayangku, kau ada disini, tetap disini. biar seribu badai dan gempa melanda". Kata-Kaya Yuni bening dan lembut. wajahnya tetaplah bersinar walau dalam terpaan duka tiada nak selam.
bersambung
Komentar
Posting Komentar