GERIMIS DI UJUNG SENJA BAGIAN 7
waktu berjalan. semua terasa indah bagi Wias. ada rasa bangga dipuja oleh dua wanita nan sama memberikan kasih sayang. namun nan tak di sadari Wias adalah, bahwasanya di balik senyum dan perhatian dua. bidadari hidupnya. dua cinta bercahaya, dua mutiara retak itu ada api. Api nan diam-diam membakar kedua cinta itu. tiada asap tiada bara. tiada nyala tiada pula panas. hanya kebekuan bak salju dingin. Tapi lebih menghanguskan dari kobaran nan menyala.
Wajah cantik nan selalu sendu. bibir nan selalu terkatup saat mereka saling tatap. kadang saling membantu dalam hening. tak ada amarah. tak ada pertengkaran hanya saling mengalah diantara dua wanita nan bersatu demi cinta mereka. cinta nan menyakiti tapi juga indah untuk mereka berdua. Keduanya kerap tampak bersama. Beku, tak ada canda, tak ada pertengkaran. Saling jaga perasaan dan saling pura pura menerima satu dengan yang lain.
Apa nan mereka lakukan bukan untuk Wian. tapi buat diri masing-masing. mereka harus begitu agat sebagian jiwa mereka tetap utuh. satu dengan yang lain bak terikat sesuatu nan tak dapat dijelaskan Lasmiyati merasa perlu Yuni buat meredakan kepanikan Wias mana kala kesusahan dan perit hidup melanda mereka. Wias aka dibujuk lembut oleh Yuni biar reda kekhawatiran dan kembali merasa yakin pada makna perlindungan. Yuni perlukan Lasmiyati buat melindungi Wias dari keras terpaan badai perjalanan hidup dengan ketegasan. dengan ketegasan Wian akan mampu menghadapi terpaan badai hidup dengan perlindungannya.
Dibalik usaha mereka bertahan. semua hanya menyelamatkan rasa mereka sendiri. celakanya rasa itu dapat ditunai dengan berkorban buat Wias. mereka sakit, luka dan terlara namun ada rasa bahagia atas itu semua dan sangat takut kehilangan rasa itu
Mereka tak satu rumah. namun selalu saja saling mengingatkan agar Wias adil dalam berbagi waktu. mereka tak bersusha menguasai Wias jadi milik mereka tapi lebih berusaha menjaga milik mereka dengan cara mereka bisa.
Ada suatu masa Wias berhenti bekerja. Yunia menyabarkan legelisashan dengan berkata,
"Aku akan tetap menjagamu walaupun kau tak bisa berikan aku apapun" katanya sambil membelai wajah Wias nan pucat. Sementara Lasmiyati justru membuka usaha kecil di rumahnya dan berkata,
"Kita kan hadapi keras hidup, jangan cengeng. aku akan gunakan keterampilanku menjahit pakaian. kita buka konveksi dan kau akan bantu aku siapkan bahan dan pekerjaan lain. Sayang, kau laki-laki, jangan menangis karena tak. bisa memberi kami. Kami pelindungmu bukan bebanmu." katanya tersenyum yakin.
#wiko_antoni_novel
bersambung.
Komentar
Posting Komentar