GERIMIS DI UJUNG SENJA episde 16
Hari berganti. musim bertukar. semamgat bekerja di sayarikat daripada Wias sungguh diluar sangkaan. Kecemerlangah kepemimpinan nan luar biasa telah membuat Syarikat melesat maju. Menjadi salah satu perusahaan terkemuka dibidangnya. Dipimpin seorang direktur nan tampan rupawan serta bijak laksana. Murah senyum cerdas dalam segala situasi. Syarikat tidak dapat terbendung melangkah maju. Dari tingkat negeri merambah ke tingkat negara, naik pula le wilah berseberangan megara, merambah Asia, Afrika kini dah dikenali di dunia barat. Syarikat yang juga dikenal sangat aktrab oleh para pengusaha antar benua
Pemimpin Syarikat nan jarang pulang ke rumah. Aktab dengah karyawan, bak saudara oleh pengamanan kantor dan petugas kebersihan. ya, itu terjadi asbab memang sang pemimpin jarang balik ke rumah. Hanya kerja, kerja dan kerja seolah hidup ini tiada yang semula bekerja. Semua karyawan tak perlu dia paksa bekerja keras. Karena semangat nan ia bawa dah jadi contoh yang tak sanggup semua orang tiru. maka bilalah tak mampu sama dengan dia. para karyawan berusaha untuk sekadar menyamai dan mematuhi aturan aturan semula jadi syarikat sekuat tenaga mereka.
Nur, Yuni dan Lasmi hanya "berbaik sangka". Mereka duga suami mereka sedang berehat di rumah para istri nan lain. Apalagi alangkah teraturnya langkah Wias dalam menghantar wang belanja. Tak pernah telat teansfer tak lupa kirim meme cinta dari perangkat henpon. semua merasa semua baik. semua biasa. Suami tersayang mereka baik. kalau mereka tak urus tentu "saudara madu" mereka sedang sibuk urus sang "pusat cinta" begitu mereka rasa
Nan beraku tak sederhana. Lepas pukul dua malam Wias berhenti bekerja. Membersihkam diri kemudian menandai toko makanan untuk kirim dia sarapan besok jam tujuh. Dia tak pernah berbaring, biarpun di kantor ada ruang tidur pribadinya. Wias hanya duduk dekat jendela, mematap cahaya lampu malam daru ketinggian ruangan prinadi kantornya di lantai tujuh. Hanya menatap kosong, wajah murung dan air mata belinangan.
"Aku sayang mereka semua, tapi aku sakiti mereka pula seluruhnya." Kadang kala Wias bergumam.
Hanya gumam, renung dan air mata. Manakala salah satu istrinya menelpon dia akan katakan dia di tempat istrinya nan lain sehingga pembicaraan rerpotong dan menjadi singkat. Tapi nan belaku adalah semua wanita itu semua sama menunggu Wias balik ke bilik bilik mereka nan kesepian.
bersambung...
#wiko_antoni_novel
Komentar
Posting Komentar