Gerimis di ujung senja episode 15

 ia tak pulang kesebarang istri manapun. Wias berbelok ke sebuah tempat sepi. dari sana ada pemandangan elok. sebuah dataran nan berhamparan ilalang berbunga. sejauh mata memandang hanya ilalang saja. di ujung tampak gunung nan menjulang tertutup kabut.

ia hentikan enjin. keluarlah Wias dari kereta. mata masih sembab. Wias duduk di bawah pokok pohon rindang. menatap arah gunung di hujungan padang ilalang berbunga. angin menghembus batang batang ilalang bak tarian hijau berhias putih
"Ada apa dengan diriku. Wias membatin. sampai hatiku dengan semua ini." Wias membatin. "Apa salah Yuni padaku. apa dosa Lasmiyati " ia kembali membatin
"Demi aku. mereka bermadu dengan rela. Tapi apa nan aku buat. Ya Tuhan siapa aku ini. aku kini tak kenali diriku lagi" Wias terus merutuki diri sambil hapus air mata nan deras mengalir di pipi.
"Aku dulu jujur pada mereka, aku jelaskad segala perkara. mereka juga terima apa saja nan nenimpa aku." Wias duduk di batu. melepas pandang ke gunung nan jauh di ujung horison. "Mereka bekerja buat hidupi aku, mereka sama menjaga satu sama lain untuk daku. apa nan aku beri buat balasan?. Aku dustai keduanya." Bisik hati Wias
Angjn menderu. langit mulai pula nak gelap. Awan berarak berkumpul legam. dingin mula tiba. titik rinai turun. Wias masihlah jua duduk melepas pandang ke gunung. taka ada niat nak beranjak.
"Apa ini takdir? tak lah. aku nan dah pilih jalan ni." bisik hati Wias.
Wias menangis sejadi jadi. "Benar katak Lasmiyati, aku ini lemah sangat" katanya tersedu sedu.
Tak ada orang lain di sana. hanya Wias dan alam raya. ini buat dia bebas nak nikmati luka dan sakitnya
Guntur mula menggelegar. Alam raya kian kelam. Rinai jua makin deras. Wias beranjak ke kereta. Enjin ia hidupkan. Melaju tak tenti tujuan. nak pulang ke Nur hatinya enggan. nak. balik ke Yuni hatinya iba nak ke Lasmi ada rasa malu pada badan sendiri.
Sampai petang tiba tak jelas kemana. Ada telepon datang dari Nurhayati.
"Bang abang tak pulang kah? mau menginap di Rumah Yuni atau Lasmi?" tedengar suara lembut namun serak bagai menahan hati dari Nur
"Abang di jalan. sebentar abang sampai" Kata Wias pura pura tegar
"kalau nak bemalam di rumah merekapun tak apa bagi Nur. Nur cuma nak pastikan abang baik." terdengar Nur menjawab.
"Siksa apa nan menimpa, makin dicinta aku makin luka" bisik Wias. Dia kembali menangis sejadi jadi manakala Nur dah tutup telepon selular
Kini Wiad putar arah Kereta ke rumah Nur. ia balik dalam fasad jasad. namun hati dan jiwanya tak pernah pulang. tak balik kemana saja. Tidak ke Nur, Yuni atau pula Lasmi. Wias dah tak ada pulang ban sebenar. Dia lah terbuang jauh, jauh sekali bahkan dari dirinya sendiri
Sampai di rumah Wias langsung senyum ceria. berpura pura tegar senacam semua baik baik saja. tapi Nur sadar sesuatu sedang tidak baik baik saja. Namun Nur enggan nak bertanya
"Ini handuk, abang mandilah dulu, Nur akan hidangkan makan untuk abang" Kata Nur sambil serahkan handuk bersih.
"Tadi ayah kerumah, dia bangga pada abang, Katanya tak pernah Syarkkat semaju sekarang" Kata Nur pura pura ceria
"Ah ya, abang dah bekerja keras. abang tak mau ayah kecewa." Kata Wian dengan senyum hampa. Sejurus kemudian melangkah ke kamar mandi nak bersihkan diri. tapi apa nan berlaku. di kamar mandi air matanya tumpah ruah. dadanya sesak dan bibirnya menahan keras sedu sedan biar tak keluar suara. "Apa nan sedang berlaku padaku" bisik hatinya

bersambung

#wiko_antoni_novel

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GERIMIS DI UJUNG SENJA BAGIAN 2 Goresan Penyiksa Oleh Wiko Antoni

GERIMIS DIJUNG SENJA BAGIAN 1 goresan penyiksa oleh Wiko Antoni

NODI HARPENDI